Senin, 16 Juli 2012

Filosofi Angka Nol dan Angka Sempurna

Jika kita bicara tentang angka, maka yang kita bicarakan adalah unsur angka satu sampai sembilan. Jika angka nol diikutkan, maka menjadilah ia sepuluh angka yang tak berubah sejak dunia diciptakan. Dimanapun bangsa, dimanapun ras atau suku, tetap mereka menyebut angka hanya ada nol sampai sembilan. Bangsa-bangsa itu hanya berbeda dalam cara penyebutannya saja. 

Angka nol adalah angka ghaib. Jika diibaratkan, ia adalah seperti sebuah dinding yang berada di luar kita dan kita berada di dalamnya. Ia adalah sebuah ruang. Ia adalah sebuah wadah yang seharusnya bisa diisi oleh apa saja. Ia adalah kekosongan, dan karena kekosongannya itulah terkadang manusia kebanyakan mengabaikannya. 

Angka sempurna adalah angka sembilan. Tidaklah diketahui kenapa orang menyebutnya “sembilan”. Jika diperhatikan, sembilan adalah angka "enam" yang terbalik. Jika enam menunjuk ke atas, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa masih ada tiga angka lagi diatasnya, sedangkan angka sembilan menunjuk ke bawah.  Angka sembilan seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dialah yang paling berkuasa diantara angka-angka sekalian. Seolah-olah angka sembilan ingin berkata, "Aku akan menunjuk kalian sebagai bawahanku dan kalian tidaklah berani mendahuluiku. Jika kalian berada di depanku kalian tetaplah rendah, karena aku pengunci semua angka di bawahku. Jika kalian berani mencoba mendahuluiku, maka kalian akan melewati dahulu angka nol dan terjun bebas ke dasar kekosongan itu dalam keadaan lemah tak berdaya di bawah sana.

Walaupun demikian, angka nol selalu menjadi incaran manusia dan selalu menjadi idaman manusia. Nol adalah kekosongan, tetapi manusia terus mencari kekosongan itu sehingga hatinya penuh dengan kekosongan itu sendiri. Tidakkah kamu melihat bahwa mereka bangga ketika mempunyai angka nol yang berjubel di belakang hartanya. Sepuluh, Seratus, Seribu, Sejuta, Semilyar, Setriliyun dan Senol-nol lainnya. Bukankah itu adalah sebuah khayalan kekosongan yang mengikuti setamak dan serakus nafsu dibelakangnya...???, Makin banyak ia peroleh angka nol, maka makin senanglah ia. 

Tidakkah mereka senang ketika menambah angka itu menjadi satu persatu yang tangguh seperti pagar, kokoh, rapat, kuat dan tidak bercerai-berai...??, Apakah mereka akan senang ketika terus mengalikan angka dengan berkali-kali lipat banyaknya. Angka yang hanya akan memenuhi hatinya serta pikiran dengan sejumlah nominal yang tak terhitung banyaknya.....??.

Itu adalah pemikiran Sang Pangeran, dan kemudian ia membicarakannya dengan paman. Ia akan memperkecil lagi skop pencarian yang masih tersisa dengan menghilangkan angka nol dan mencari angka sembilan. 

“Hai, Paman, tidakkah paman senang, ketika aku menyukai angka sembilan dan mengabaikan angka nol…??!”, pangeran berharap pada perkataan paman. “Hai ananda, tidaklah mengapa demikian. Angka sembilan itu adalah angka Tuhan dan ia adalah angka sempurna", Paman menjawab. Paman setuju dengan pendapatmu”. Paman menambahkan dan menyetujuinya. “Baiklah paman, cobalah cari mereka yang mempunyai unsur  angka sembilan dan abaikan saja mereka yang mempunyai angka nol", pangeran berkata. 

Memang ada beberapa yang terkait dengan angka nol dan angka sembilan dan itu sebuah dilematika. Tetapi paman tetap berhati-hati dan teliti dalam hal menyortir nama-nama tersebut dan kadangkala paman menemukan beberapa problema dalam pencariannya. Misalnya, ia menemukan seorang wanita yang bernama Wulandari Wiladaktika yang beralamat di Jalan Lembu no. 90, paman tetap memasukkannya dalam daftar. Itu karena angka sembilan berada di depan angka nol. Tetapi kemudian ketika paman menemukan seorang wanita yang bernama Pastrika Purnamasaja yang beralamat di Jalan Kanguru no. 09, paman mengabaikannya karena ternyata wanita tersebut baru berumur sembilan tahun.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar