Senin, 16 Juli 2012

Engker Waluh


Setia itu Perlu

Seperti kebanyakan pasangan lainnya yang mengharapkan kebahagian dalam menjalani rumah tangga, begitulah pula yang ada diinginkan hati Sang Pangeran. Ia tidak menginginkan pasangannya nanti adalah seorang yang tamak, rakus akan kekuasaan dan menghamba diri pada dunia. Ia haruslah orang yang setia kepada perintah Tuhan serta perintah Sang suaminya.

'Setia', kata-kata itulah yang ada dalam benak pangeran. Setia yang berarti tetap tabah dan sabar, tidak berkhianat, tidak bermain belakang, jujur, tidak bermuka dua, terbuka, perhatian dan tidak pernah mengecewakan. 

Setia itu adalah seperti kunci dengan anak kuncinya, seperti akar dengan tanah, seperti ilalang dengan angin utara, bahkan seperti pantai dengan ombaknya. Dan 'Setia',  itulah kata-kata yang didapat oleh Pangeran ketika ia pergi berburu ke sebuah padang yang ditimbuhi ilalang serta perdu liar.
Beginilah ceritanya…:

Di sebuah tempat tidak jauh dari kerajaan tersebut, kira-kira 5 kilometer ada sebuah bukit yang bernama Engker Waluh. Konon di atas puncak sana terdapat sebuah kuburan yang dikelilingi dan ditumbuhi oleh labu liar. Tiada seorangpun penduduk disana yang mengetahui kuburan siapa disana. Bahkan ketika ditanyakan kepada orang-orang tua yang dahulu yang sudah menjadi kakek nenek, mereka hanya mengatakan bahwa kuburan itu sudah ada sejak mereka kecil. Merekapun dahulu juga  pernah menyanyakan hal tersebut kepada kakek nenek mereka perihal kuburan tersebut, tetapi ternyata kakek nenek dari kakek nenek kami mengatakan bahwa memang kuburan itu sudah ada juga sebelum mereka ada. Berarti sudah lima generasi yang menanyakan tentang kuburan itu, tetapi tetaplah tidak ada yang mengetahui tentang siapa yang dikuburkan ataupun misteri seputar kuburan tersebut. Barangkali ada beberapa mereka yang tahu, tetapi kebanyakan mereka merahasiakannya.

Jika dilihat dari jauh, bukit itu berbentuk seperti sebuah labu besar yang bulat di tengah dan mengerucut ke atas. Tidak ada yang menghuni bukit itu dan mungkin tidak akan ada yang mau menghuninya. Bukit itu tidaklah terlalu tinggi dan tidaklah terlalu lebar. Ia bisa dijelajahi dengan jalan kaki kelilingnya dalam waktu yang relatif singkat jika memang tujuan kesana hanya untuk mengelilinginya, tetapi hanya karena kemisteriusannya itu saja, yang menyebabkan  banyak yang tidak berani untuk mendekati puncak bukit itu.

Mereka mendengar desas-desus bahwa mereka yang kembali dari sana akan mendapat kutukan yang dinamakan Inferno Patrialis alias tidak mendapat jodoh. Konon disana tinggal makhluk yang berwujud penampakan manusia biasa yang sangat cantik rupawan, namun tidak semua orang dapat melihatnya. Ia akan menampakkan diri sekali-sekali. Jika ada yang berani datang sendirian dan ia adalah laki-laki, maka ia akan berwujud seperti wanita cantik dan mencoba untuk menggodanya

Mereka yang sempat bertemu makhluk itu, dan makhluk itupun menyukainya, berhati-hatilah. Setiap beberapa waktu, ia akan selalu dibayang-bayangi oleh makhluk itu. Bahkan ketika sudah sampai di rumah dan kembali pun akan tetap diganggu oleh makhluk itu. Setiap beberapa malam ia akan mendatangi lelaki yang menurutnya adalah kekasihnya itu, sampai masuk ke dalam mimpi. Ketika lelaki yang telah menjadi kekasih makhluk itu menemukan wanita normal dan ingin mencoba menjalin asmara layaknya manusia biasa, makhluk penghuni bukit Engker Waluh yang menjadi kekasihnya itu akan cemburu. Pernikahan pun bisa menjadi batal karena setiap malam selalu diganggu oleh penampakan makhluk itu. Ini disebabkan tak lain, karena makhluk itu menganggap bahwa orang yang disukai itu adalah pasangannya, sehingga ia akan selalu mengganggu orang-orang yang mencoba merebutnya. Akhirnya wanita-wanita takut untuk mendatangi lelaki yang menjadi kekasih makhluk itu, dan jadi meranalah lelaki itu karena tak kunjung mendapat jodoh. Sungguh tragis, bahkan ada yang sampai menjadi gila. 

Sudah banyak yang menjadi bukti bahwa memang bukit itu benar-benar angker. Yang terbaru adalah cerita tentang seorang pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai pencari kayu bakar dan akar-akar hutan untuk dijadikan obat. Ia mengatakan bahwa ia pernah bertemu sosok makhluk cantik disana. Ia merasa dipanggil oleh sosok makhluk itu ke atas bukit, dan ia menemukan di dalamnya ada sebuah pintu yang ternyata adalah sebuah goa. Dia menemukan keindahan di dalamnya, emas yang berkilau, air yang mengalir perlahan, pepohonan yang rindang, dan buah-buahan yang ranum dan masak. hewan-hewan pun seakan menurut kepadanya. Seakan ada sebuah istana di dalamnya yang penuh dengan sukacita, banyak wanita cantik dan pelayan-pelayan istana yang selalu menuruti apa yang dimintanya. Dia pun terhanyut dalam pesona pesta makhluk penghuni bukit Engker Waluh itu.
Beberapa hari kemudian, orang-orang kampung disana menemukan pemuda tadi dia berada di sebuah jurang di pinggir bukit itu dalam keadaan tak berdaya, seolah-olah tubuhnya sudah diisap. Wajahnya putih pucat, pakaiannya compang-camping dan kelihatan dia sudah tak makan beberapa hari. Orang-orang kampung membawanya kembali ke rumahnya dan dirawat sebagaimana mestinya. Untunglah nyawanya masih bisa diselamatkan. Setelah sembuh, iapun menceritakan kejadian itu. 

Pemuda itu terkadang sering bermimpi lagi dengan wanita yang pernah ditemuinya di Engker Waluh itu. Ia sangat cantik menurutnya dan ia pun sulit untuk melupakannya, hatinya telah luluh karena makhluk itu. Tetapi mereka beda dunia, tak mungkin akan bersatu, sungguh kejam permainan makhluk itu.

Peristiwa itu sudah lama terjadi dan pemuda itu tetap tidak mau menikah sampai sekarang, sebab ia merasa senang dan gembira ketika didatangi makhluk itu, bahkan katanya ia tidak akan mau menikah dengan wanita normal karena ia merasa sudah mempunyai pasangan dari dunia lain itu. Itulah kutukan dari bukit Engker Waluh, Sungguh tragis, tapi memang itulah keadaannya.

 ***

Cara yang terbaik ketika bepergian ke Bukit Engker Waluh adalah ketika mencoba bepergian kesana, hendaklah jangan sendiri dan janganlah di waktu malam, sebab makhluk itu akan datang pada saat seseorang dalam keadaan merana dan kesepian. 
Ada satu pantangan lagi, yaitu, janganlah melihat kearah makhluk itu ketika makhluk itu menampakkan dirinya. Konon katanya, ia adalah sebuah cahaya putih bersih, anggun rupawan serta tak nampak cacat sedikitpun. Siapapun akan tergoda melihatnya. ketika ada yang sampai melihatnya, jadilah ia sulit membedakan lagi mana yang nyata dan mana yang khayalan.

***

Pagi itu pangeran ingin berburu kelinci di sekitar bukit Engker Waluh. Konon katanya walaupun seram tetapi masih banyak kelinci yang berkeliaran disana, kebanyakan berwarna putih, dan ada pula yang abu-abu. kelinci-kelinci itu makan dari labu yang banyak tumbuh di sekitar sana, serta rumput perdu yang menjalar di sekitar tempat bukit itu. Walaupun mereka berkeliaran bebas, tetapi mereka susah untuk ditangkap. Ketika mereka masuk ke dalam semak-semak atau masuk ke dalam lubang yang mereka gali sendiri, Maka kita tidak akan menemukannya lagi.
Sang Pangeran telah mendengar desas-desus tentang bukit Engker Waluh, tetapi ia masih tidak percaya, ia beranggapan bahwa itu hanyalah mitos yang dibuat agar bukit itu selamanya asri dan tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil manusia yang merusaknya.

 ...................

Pagi itu dengan ditemani beberapa punggawa kerajaan, berangkatlah Pangeran untuk berburu kelinci. Hasrat hati untuk kembali bertualang dan menghirup udara alam bebas raya sangat terasa oleh Pangean. Maka dengan semangat dan tanpa ditunggu-tunggu lagi, perjalanan itu dimulai. Matahari belum naik sepenggalahan dan angin pagi masih tercium aromanya. 
 
Tepat di belakang istana itu terbentanglah padang rumput yang luas yang diselilingi oleh beberapa pepohonan kecil yang rindang. Nun di ujung sana terlihatlah bukit Engker Waluh yang seakan memagar istana dari bahaya yang mengancam. Seandainya ia dijadikan benteng pertahanan, tentu ia akan sangatlah kuat.
Bukit itu sendiri dialiri oleh aliran sungai kecil yang segar airnya, yang berasal dari mata air Gunung Pura. Sungai itu sendiri berada di pinggir sebelah utara bukit Engker Waluh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar